Kamis, 29 April 2010

CERAMAH IDUL FITRI

ALLAHU Akbar, dengan takbir dan tahmid, umat Islam melepaskan bulan Ramadan dan menyambut 1 Syawal 1427 H.
Mudah-mudahan pelepasan bulan Ramadan dan penyambutan bulan Syawal terpenuhi makna dan arti kedua peristiwa yang terjadi dalam suasana bergembira ria itu. Sebagaimana diketahui, bulan Ramadan berarti mengasah.

Dengan arti tersebut diharapkan selama bulan tersebut, jiwa, ruh, dan hati umat benar-benar telah terasah dengan amal-amal kebajikan, sehingga hati mereka yang merupakan wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas takwa yang sudah diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan, Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa? (QS [al-Hujurat] 49 : 3).

Jika hal itu telah berhasil maka kita memasuki bulan Syawal dengan harapan semakin terangkat, sesuai arti bulan Syawal yaitu terangkat, sehingga derajat kita di sisi Tuhan terangkat dengan meningkatnya pengabdian kita kepadaNya, pengabdian kita kepada Negara, kepada bangsa dan agama.

Puasa segera selesai kita laksanakan, zakat fitrah pun telah kita tunaikan. Menyusul dua peribadatan itu ialah Idul Fitri. Kalimat Idul Fitri mengandung tiga makna. Dia dapat bermakna kembali kepada kesucian, dapat berarti kembali kepada asal kejadian, dan dapat bermakna agama yang benar.

Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Sedang kembali kepada agama yang benar berarti seorang yang melaksanakan Idul Fitri akan melaksanakan perintah agama yang benar. Beragama dengan benar menuntut keikhlasan dalam pengabdian.

Alquran menyatakan :Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS [al Bayyinah] 98 : 5). Manusia yang beragama dengan benar dituntut agar setiap saat dalam perjalanan hidupnya tidak terjadi pelanggaran besar atau pelanggaran kecil. Kalaupun terjadi segera disadari dan dimohonkan ampun.

Agama adalah keserasian hubungan, keserasian hubungan manusia dengan Tuhan, keserasian hubungan manusia dengan sesama manusia dan keserasian manusia dengan lingkungannya, serta keserasian hubungan manusia dengan alam raya. Dengan kata lain, beragama dengan benar berarti berakhlak yang mulia, Sabda Nabi: "Aku hanya diutus untuk menyepurnakan akhlak yang mulia". Itulah antara lain makna beragama yang benar yang segala tuntutannya bermuara kepada akhlakul karimah.

Idul Fitri dapat bermakna kembali kepada asal kejadian. Asal kejadian tidak saja bermakna keadaan suci bersih sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya, yaitu: kayaumi waladtshu ummuhu. Akan tetapi asal kejadiannya bermakna membawa potensi untuk menjadi orang beriman dan berpotensi untuk menjadi orang kafir.

Firman Allah: Faalhamaha fujuraha wataqwaha (Allah mengilhamkan kepada jiwa (manusia) kefasikan dan ketakwaan). (QS [al-Syams] 91: 8). Oleh karena itu bagi kita yang beridentitas makhluk manusia terbuka lebar dua jalan menuju dua arah yang berbeda yaitu bahagia hidup di dunia dan selamat di akhirat dengan balasan surga jannatun naim atau bersenang-senang di dunia tetapi mendapat siksaan di akhirat dengan siksaan api neraka.

Dan agar umat Islam terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela yang menyebabkan dirinya terancam dengan siksaan neraka, Allah sejak awal memperkenalkan kepada manusia dua jenis musuh bebuyutan. Musuh pertama, setan atau Iblis dan musuh kedua, nafsu syahwat yang tidak terkendali.

Tekad setan dan iblis untuk menjerumuskan manusia ke jalan sesat antara lain diperoleh dari penjelasan Allah dalam Alquran (QS al-Araf [7] : 16-17). Sedang klaim bahwa setan itu adalah musuh yang nyata manusia terungkap dalam Alquran: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Yusuf [12] : 5).

Nafsu atau hawa nafsu bagi manusia berfungsi ganda, sebagai kawan dan lawan. Nafsu yang menjadi kawan dan terpuji nafsu muthmainnah (QS al-Fajr [89] : 27-30). Sedang nafsu yang menjadi musuh dan menyesatkan ialah nafsu amarah.Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu (ammarah) itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS Yusuf [12] : 53).

Kedua jenis musuh umat manusia ini menyesatkan lawannya dengan cara-cara yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama dan kerja sama yang apik. Nafsu amarah mendesakan kenikmatan berlebihan kepada manusia tanpa kompromi sedikit pun.

Berbeda dengan nafsu, setan dalam menggelincirkan manusia kepada kekufuran mempergunakan cara-cara yang bersifat kompromistis atau tawar menawar. Pada saat iman manusia sedang menguat, setan menyingkir untuk sementara, tetapi pada saat manusia lengah, maka saat seperti itulah waktu yang tepat bagi setan memperdaya manusia.

Kemiskinan, kebencian, dan permusuhan merupakan macam-macam godaan setan terhadap
manusia yang memungkinkan terjerumus dalam dosa. Setan dengan uletnya membisikkan dan menakut-nakuti manusia akan bahaya kemiskinan, dengan bisikan itu manusia menjadi kikir dan pelik.

Pada kondisi lain, setan berkolaborasi dengan nafsu amarah mendesak manusia untuk menjauhi kemiskinan dengan memompakan sifat serakah dan korup. Ketakutan dari kemiskinan membuat manusia serakah, terlalu bernafsu untuk memperbanyak harta, walaupun diperoleh melalui korupsi atau cara-cara yang tidak halal lainnya. Yang pasti bagi manusia yang telah terserang sifat serakah akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu setannya.

Semua pengaruh sesat dari nafsu, dan semua godaan keji dari setan dapat dilawan dan diatasi dengan beragama yang berkualitas. Kualitas agama ditentukan dengan kualitas takwa. Sedang kualitas takwa diperoleh melalui buah dari ibadah puasa. Agar orang-orang beriman tidak terputus dari bimbingan dan arahan puasa, Rasulullah memperkenalkan sejumlah puasa yang dapat ditunaikan sepanjang tahun.

Kalau puasa Ramadan yang temponya hanya satu bulan, masih ada puasa Syawal. Sesudah puasa Syawal masih ada puasa Asyura. Selain dari ada puasa Senin Kamis. Ini berarti manusia selalu dilengkapi perisai dari desakan nafsu bejat dan godaan setan yang menyesatkan.
Ban9, SMS siapa ini ban9?? IsinYa k0q paKai “MaaF, SYan9!?” Ban9, ToLon9 don9 maaFin aYe, ban9! KaLo Ka9ak, HaTi ‘ni taK tenan9. Ban9, MinaL aiDin waL faidZin ban9! No Card, No Ketupat, No Parcel, Just SMS Represents Everything …Sins… Laugh.. Tears.. Happy ‘iedul Fitrie 1429 H…Maaf lahir batin y..Btnnn Selepas Ramadhan, semoga mutiara kesabaran, keimanan, dan mahabbah pada Allah selalu terpatri dalam diri, seharmoni dengan gelombang kehidupan yang tak selalu datar. Mohon maaf lahir batin. SePuTiH CoCaInE SeBeNiNg VoDkA SeHaRum GaNjA MhOn DiMaAfKaN SgAlA KsAlAhAn MeSkI HnYa SeKeCil EcStAsY “Met Idul Fitri 1429 H, m0Hon MAaf LHR dAn Btn MäTä iñI kDänG släH mLihÄtmUlüt iNI kdANg sLAh BruCäp haTi iNi kdAnG slAh mENduGa SoMiNAl aiDzIN waL fA IdZiN mOhoN MaaF lAhiR BatiN.maafin smua slhku ada badai menghadang… gempa mengguncang… halilintar menyambar… tsunami menyerang… sblm semuanya trlambat.. q mo bilang sesuatu ma kamu.. q mo bilang…minal Minal Aidin wal Faidzin Bila ada kata terselip dusta, ada sikap membekas lara, dan langkah menoreh luka, semoga masih ada maaf tersisa. Minal Aidin wal Faidzin Sebening fiber optic, setinggi tower BTS, secepat broadband access. Kami sekeluarga mohon dibukakan bandwidth maaf selebar-lebarnya. Maaf saldo amal anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ke surga..untuk itu isilah segera saldo amal anda di bulan puasa ini. Ya Allah, maafkanlah temanku ni, karana aku telah memaafkannya minal Minal Aidin wal Faidzin Kt2q tlh bny menyaktimu,prbutanq tlh bny melukaimu.di hr nan fitri ni ijnkanq ucpkan”TAQOBBALALLAHUMINNA WA MINKUM”,minal aidzin wal faidzin,mhn maaf lahr&btin $ènäñdùng Aluñån Tåkbir Menyerukän Kemenängän Hätì .Buät U, Äa ucäpiñ Met IDUL FITRI 1428 H Minäl Aidzin Wäl Fåidzìn Mohøn Määf Làhir & Båtìn Yä.. kata RCTI gw OK trz kata SCTV gw NGETOP klo kt TPI gw MAKIN ASYIK kt ANTV gw WOWW KEREN kt LAtivi gw PAS DIHATI so….gw pengen minta maaf sama loe Gadis mnyulam diatas kain,seindah bunga dlm jambangan.Walo hanya sms yg sy kirim,serasa qt brjabat tangan.MinalAidzinWalFaidzin.Mhn maaf lahir&batin ya ancik-ancik pucuking eri selamat hari raya idul fitri ndas gundul di kipasi njaluk ngapuro awaku iki ngutik-utik macan turu mugi Alloh nglebur dosaku taqobballohuminna wa minkum
MEMBANGUN INDONESIA BARU
DENGAN KEMBALI KEPADA FITHRAH
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
لااله إلا الله وحـده ,صد ق وعـده ,ونصرعـبده، واعزجـنـد
و هزم الأحزاب وحـده
لااله الاالله ولانعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون ولو كره المشركون ولو كره المنافقون
لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله الذى انعم علينا وهدانا الى دين الأ سلام و جعل رمضان شهرا مباركا ورحمة للناس واشكرونعمة الله ان كنتم اياه تعبدون و لعلكم تتقون.
اشـهـد ان لااله الاالله وحده لاشريك له واشـهـد ان محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم وبارك على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه اجمعين.
فيا ايها المؤمنون والمؤمنات:أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فازالمتقون واتقوا الله حق تـقاته ولاتموتن إلاوانتم مسلمون
Maha Besar Allah, kepada-Nya segala makhluk tunduk dan bersimpuh!
Kepada-Nya kita menyembah. Kepada-Nya kita meminta, Kepada-Nya kita mengarahkan dzikir dan do’a.
Ditangan-Nya segala kekuasaan. Dia menebar rahmat, dan Dia pula pelimpah ‘adzab.
Saat ini kita kumandangkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil menyambut datangya ‘Iedul Fithri setelah sebulan berpuasa yang mengantarkan kita ke gerbang fithrah!Allahu Akbar.

‘Iedul Fithri adalah hari raya Agung Ummat Islam, setelah ‘Iedul Adha dan hari Jum’at. Keagungan hari raya ‘Iedul Fithri antara lain pada kedalaman kandungan makna Fithrah.

Fithrah dalam arti kembali pada kemurnian agama (H.R. Muttafaqun Alaihi dari Abu Hurairah). Kembali pada kesucian. Kesucian hati dan jiwa (tadzkiyah nufus), kesucian pikiran (tadzkiyatul fikrah). Fithrah dalam pengertian sunatullah: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptkan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum ayat 30)

Dan fithrah dalam pengertian kembali berbuka (ifthar), setelah sebulan penuh menempa diri lewat madrasah Ramadhan.



Alangkah baiknya bila ‘Iedul Fithri dijadikan sebagai momentum bagi mempererat ukhuwwah dengan memperbanyak silaturrahim, saling menziarahi seraya mengucapkan: “Taqabbolallahu minna wa minkum”. Saling memaafkan dan saling mengasihi. Akhirnya kembali kepada fithrah dalam arti seutuhnya mengandung makna kembali kepada tuntunan Allah; kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah!

Ramadhan dengan seluruh ‘amaliyah ramadhan, sejak berpuasa, qiyamullail, tilawatil qur’an, infaq, shadaqah, dsbnya menuju terbentuknya jati diri ummat yang merelakan hidupnya di bawah naungannya al-Qur’an, di bawah bayang-bayangnya firman Allah: Al hayat fi zhilalil qur’an!

Ramadhan mengantarkan kita untuk committed terhadap nilai-nilai Islam, terhadap al-Qur’an.
Kini sejauh mana ummat ini committed terhadap al-Qur’an?

Diantara manusia yang mengaku Islam, Allah memberikan konstalasi tentang sikap mereka terhadap wahyu, sikap mereka terhadap Al-Qur’an, sikap mereka terhadap Allah !

Ada manusia yang tergolong mengimani isi Al-Qur’an (namun hanya sebagian) dan bersikap ingkar (kufur) terhadap bagian (isi) Al-Qur’an lainnya. Mereka mau menerima Al-Qur’an sebatas urusan ukhrawi mereka (sebatas hubungan mereka dengan Allah), tetapi menolak Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan duniawi mereka, kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, hubungan antar manusia, dan sebagainya).

Mereka melakukan dikotomi terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.
Dalam nada bertanya Allah berfirman:

أفتؤمنون ببعض الكتاب وتكفرون ببعض

“Adakah engkau iman kepada sebagian isi kitab (Al-Qur’an) dan bersikap kufur terhadap sebagiannya lagi?” (Al-Baqarah: 85)

Ada lagi golongan yang disitir Allah dalam surah Al-Hajj ayat 11:
ومن النّاس من يعبدالله على حرف

“Diantara manusia ada yang menyembah Allah (beragama) di tepi-tepinya saja (menurut kepentingan hidupnya)”. (Al-Hajj: 11).

Bahkan diawal surah Al-Baqarah Allah mengkonstatir adanya manusia yang mengaku beriman sesungguhnya mereka itu tidak beriman. Bekas iman tidak tereflesikan dalam prilaku, amal perbuatan sehari-hari, tidak dalam pola fikir, tidak dalam mencari rezeki, tidak dalam system moral, tidak dalam way of life.

ومن النّاس من يقول, آمنّا باالله وبا اليوم الأخروماهم بمؤمنين

“Diantara manusia ada yang berkata: Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. (Al-Baqarah: 8)

Allah Swt. menuruh setiap hamba yang mengaku beriman agar memeluk Islam secara totalitas, mencakup seluruh hidup dan kehidupan kita dengan shibghah Allah, corak Ilahi, mengamalkan al-Islam dalam seluruh doktrinnya sebagaimana firman Allah:

يآ ايّها الذين آمنوا اد خلوا في السّلم كا فّة ولاتتّبعوا خطوات الشّيطان إنّه لكم عدوّ مبين.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah: 208).

Prof. Dr. Khurshid Ahmad, ulama dan cendekiawan muslim terkemuka dewasa ini dalam memberikan makna ayat tersebut dengan amat tepat.
“Islam bukanlah sebuah agama dalam pengertian umum yang salah itu. Islam bukanlah agama yang hanya menyangkut kehidupan pribadi manusia. Islam adalah cara hidup total yang menyangkut seluruh sisi kehidupan manusia. Ajarannya merupakan petunjuk hidup yang menyangkut seluruh bidang kehidupan baik ekonomi maupun politik, baik hukum maupun budaya, baik nasional maupun internasional” (Khurshid Ahmad, Islam: Basic Principles and Characteristic).

Dalam pengertian inilah kita memasuki, memeluk dan menghayati, mempedomani dan mengamalkan Islam.

Kita bersyukur meskipun kita belum mampu melaksanakan nilai-nilai Islam secara totalitas, syari’at Islam telah diaplikasikan dalam berbagai perangkat hukum seperti: UU Perkawinan (UU No. 1 th. 1974, UU Wakaf, Undang-undang Peradilan Agama, UU Zakat, UU Haji dll. Selain itu diaplikasikan dalam bentuk ekonomi Syari’ah, Bank Syari’ah, Asuransi Syari’ah, Pengadaian Syari’ah, dan diberlakukannya Syari’at Islam di Nanggroe Aceh Darussalam.

Amat disayangkan ketika terbuka peluang konstitusional yakni Sidang Tahunan MPR-RI (2001) pada saat Amandemen UUD ’45 berkenaan dengan pasal 29 Bab Agama elit politik muslim di MPR tidak kompak untuk memperjuangkan dilaksanakannya syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Sekali lagi bagi pemeluk-pemeluknya. Inilah peluang konstitusional yang terbuka sejak akhir konstituante pada tahun 1959.
Kita kehilangan logika untuk memahami mengapa ada elit politisi muslim “yang menolak” pemberlakuan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya?lebih-lebih apabila mengaitkan penolakan tersebut dengan Piagam Madinah terasa bagai panggung jauh dari api, tidak kene mengena.

Ada tiga hal penting dalam Piagam Madinah yakni : Daulah Islam; Syari’at Islam dan kepemimpinan Rasulullah. Terlindunginya hak-hak Yahudi dan Nasrani justru karena Rasulullah menerapkan Syari’at Islam. Atau adakah syari’at lain yang diterapkan Rasulullah di Madinah ?

Ketiga hal yang wujud di Madinah tidak kita miliki saat ini di negeri ini. Jadi menggunakan Piagam Madinah sebagai sebuah analogi terasa tidak tepat.

Kaum muslimin dan Muslimat Rahimakumullah!

Sebagai ummat pendukung da’wah, bahkan sebagai ummat Islam terbesar di seluruh dunia dan bagian dari mayoritas bangsa, kaum Muslimin Indonesia memikul tanggung jawab dan beban sejarah.

Kita bertanggung jawab terhadap kebangkitan kembali ummat di semua bidang kehidupan. Mengentaskan kemiskinan, mengembangkan potensi sosial-ekonomi ummat, mengejar ketertinggalan kita di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dengan dilandasi iman dan taqwa, membangun manusia Indonesia seutuhnya, sebagaimana didesign Allah dalam Al-Qur’an: Ummatan Wasatha’! Ummat yang berkesinambungan. Tidak semata-mata mendewa-dewakan materi atau mendewa-dewakan sains dan teknologi.

Seorang tokoh muslim (muallaf) Roger Garaudy yang juga cendekiawan terkemuka Prancis menyampaikan pandangannya mengoreksi konsepsi pembangunan Barat antara lain:
“Kesalahan terbesar dalam kebudayaan Barat adalah bahwa ia terlalu berpegang pada pembangunan materi. Development of production dianggap sebagai lambang satu-satunya bagi kemajuan dan kebahagiaan ummat manusia. Tetapi sesudah itu mau apa? Sesudah mobil-mobil, alat-alat mekanis dan komputer diproduksi secara besar-besaran dan terus meningkat, lalu mau apa? Sesudah bank-bank dibangun di mana-mana dan menghasilkan keuntungan yang berlimpah, lalu mau apa? Sesudah dibangun kota-kota, jalan-jalan dan pabrik-pabrik, lantas mau ke mana? Akan kemanakah kita sesudah itu semua? Manakah pembangunan di bidang nilai? Mental, akhlak, sikap dan kebahagiaan sejati? Mereka berusaha membangun kebudayaan tanpa iman dan tanpa Tuhan.

Hasil satu-satunya dari teori pembangunan yang sarat ini adalah bahwa dunia sekarang ini telah memiliki sarana-sarana yang telah siap untuk menghancurkan dirinya”.

Kita ungkapkan penilaian Roger Garaudy sebagai intelektual Perancis yang muallaf, yang setelah meneguk kehidupan Barat sepuas-puasnya, lalu memberikan penilaian kritis objektif terhadap kebudayaan Barat itu sendiri.
Untuk apa kita ungkapkan penilaian Garaudy tersebut? Tidak lain untuk menghindarkan ummat dan bangsa kita dari kesalahan yang ditempuh negara-negara maju dengan modernismenya yang sekuler! Yang hampa dari nilai-nilai wahyu, hampa dari nilai-nilai rohaniah!

Ummat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini harus kembali memotivasi diri membangun kepekaan spiritual dengan firman-firman Allah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan memulai dari keluarga sebagai komunitas ummat terkecil hingga tercipta masyarakat Islami, masyarakat Qur’ani. Menjadikan keluarga sebagai starting point da’wah bersama jama’ah Islamiyah menjadi benteng da’wah, benteng akhlaq, benteng ‘aqidah menjadi kekuatan bangsa membangun peradaban dan kemanusiaan.

Untuk bangkit kembali menjadi bangsa yang bermartabat, memiliki harga diri dan jati diri, kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang berakhlaq mulia, jujur, amanah, profesional dan memiliki komitmen yang teguh untuk menegakkan syari’at: Tathbiqusysyari’ah! Wakil-wakil ummat Yang Hanya tunduk Pada Kehendak Allah!

Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimaatulullah

Tantangan da’wah kini semakin berat dan kompleks. Namun kita tidak boleh berhenti melaksanakan kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar. Gerakan Da’wah berada diantara dua kecenderungan yang sekilas seakan sama kuat: Kecenderungan transenden dan kecenderungan sekular. Kecenderungan sekuler tampak dari bergesernya nilai-nilai (agama, adat istiadat, tradisi) yang selama ini menjadi acuan kearah nilai-nilai baru yang “serba boleh”, : primissivness, tampak dari gaya hidup serba longgar dari nilai-nilai agama (Islam). Implikasinya hampir meliputi semua bidang kehidupan: mulai dari mode (gaya berpakaian), musik, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, seni dan sebagainya. Kecenderungan transeden tampak dari gairah masyarakat untuk semakin religius. Kegiatan kajian-kajian agama (bahkan merambah ke hotel-hotel), kawasan industri, minat masyarakat mengenakan busana muslim/muslimah, kegiatan umrah, pesanatren kilat, bahkan ada yang tertarik memperdalam tasawwuf.

Abad ke XXI ditandai oleh pencapaian dibidang teknologi yang menakjubkan. Revolusi dibidang teknologi komunikasi telah melahirkan era baru: Era Globalisasi; sesuatu yang tak mungkin dielakkan dengan segala dampak positif dan negatif. Sebagai akibat dari pencapaian teknologi komunikasi itu ada sesuatu yang hilang dari kehidupan umat manusia, yakni jarak. Kita berada dalam apa yang disebut the global village, yang menjadikan dunia tanpa sekat.

Segi-segi positif dari Era Global ini ditandai oleh kemajuan dibidang teknologi komunikasi. Hal ini tentunya kita terima dan manfaatkan bahkan bisa menunjang kegiatan da’wah. Tetapi dampak buruk dari muatan yang dikandung dalam bentuk media cetak dan elektronik seperti : pornografi, adegan-adegan kekerasan, menciptakan realitas sosial yang amat buruk bagi perkembangan da’wah. Maraknya VCD porno, film, majalah, tabloid porno yang semakin mudah diperoleh termasuk akses ke internet yang mengumbar seks bebas dan pendorong kuat merebaaknya maksiat.

Dalam berita (running teks) stasiun TV diberitakan bahwa menurut AP (Associated Press) menyebutkan Indonesia menempati posisi ke 2 dalam masalah pornografi sesudah Swedia(?).

Dunia ketiga termasuk negeri-negeri muslim sedang mengalami apa yang disebut pakar komunikasi: penjajahan budaya. Melalui Media cetak/elektronik, budaya yang cenderung mengabaikan nilai-nilai agama meyerbu rumah tangga kaum muslimin. Akhirnya terjadi benturan budaya, benturan norma, benturan nilai. Apa yang dimasa lalu dipandang tabu kini tidak saja dipandang sesuatu yang biasa bahkan tidak jarang dianggap sebagai ciri-ciri modernitas atau ciri-ciri orang modern.

Kini masyarakat dilanda penyakit-penyakit sosial : miras, judi, perzinahan, narkoba, pornografi, pornoaksi, penyimpangan seksual: homoseks, lesbianisme. Pergaulan semakin bebas. Angka pengguguran kandungan (aborsi) mencapai dua juta jiwa pertahun.
Surat kabar Suara Pembaharuan, Selasa 19 Juni 2001 mengangkat rangkaian lapaoran ekslusif dibawah judul : “Aborsi di Indonesia, Dua Juta Calon Manusia Dibunuh Tiap Tahun.”

Sebelum itu salah satu stasiun TV menayangkan wawancara Prof. DR. Azrul Azwar, pejabat tinggi Departemen Kesehatan, Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menyatakan bahwa pengguguran kandungan sudah sangat mencemaskan. Beliau menyatakan 3 (tiga) juta jiwa aborsi setiap tahun tersebut 20 % pelaku aborsi adalah puteri-puteri remaja yang belum menikah.

Disisi lain upaya mencerdaskan bangsa merupakan amanah kemerdekaan. Namun setelah 60 tahun usia Republik ini masih ada sekitar 15,24 juta atau 10,21% penduduk usia 15 – 45 tahun yang tidak bisa baca tulis, di Jakarta saja sebagai Ibu Kota Republik, laporan resmi menyebutkan ada lebih dari 128.000 penduduk usia produktif yang buta huruf. Program PBH yang disponsori pemerintah hanya mampu memelekhurufkan 200.000 orang per tahun. Bila hal seperti ini terus menerus berjalan, perlu waktu 60 tahun lamanya untuk menuntaskan masalah buta huruf dan pendidikan dasar.

Dalam banyak hal Indonesia tertinggal jauh dibanding negara-negara ASEAN dan negara-negara yang sedang berkembang. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang dicapai Indonesia dibawah negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina dan Thailand. Peringkat Indonesia saat ini dibayang-bayangi oleh Vietnam. Bahkan pada tahun 2002 dan 2003 posisi Indonesia berada dibawah Vietnam. Sejak 1975 pencapaian Indonesia berada jauh dibawah rata-rata Indeks Pembangunan Manusia di dunia maupun diantara negara Asia Pasifik. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia saat ini berada pada peringkat 111 dari 177 negara. Memang sesekali kita terhibur dikejutkan oleh keberhasilan beberapa remaja Indonesia yang menjuarai Olimpiade Sains. Namun kemampuan pelajar Indonesia dalam bidang matematika dan sains tergolong rendah. Untuk bidang matematika siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas II di Indonesia berada pada perinagkat ke-34 dari 45 negara, sementara untuk bidang sains siswa Indonesia ada di urutan ke 36 dari 45 negara. Demikian laporan yang diberikan oleh International Associativy for the Solution of Educational Achievement (IEA) berdasarkan hasil studi Trends in International Mathematic and Science Study (TIMMS) 2004. Untuk tingkat SD Indonesia memperoleh nilai E, sedang Malaysia dan Thailand memper oleh nilai A

Demikian juga di tingkat Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi di Indonesia yang paling top sekalipun belum memiliki syarat internasional. Sementara India sebagai negara yang digolomgkan miskin memiliki belasan Perguruan Tinggi yang diperhitungkan ditinagkat dunia dan lulusannya siap berkompetisi secara global.
Persoalan obat bius, peredaran dan penggunaan Narkoba telah mencapai tingkat yang amat serius. Indonesia bukan lagi kawasan transit, tempat persinggahan, tapi Indonesia kini salah satu dari negara produsen.

Potret kita sebagai bangsa kini semakin memprihatinkan ketika berbagai usaha untuk memecahbelah bangsa ini dengan mengkapling-kapling NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) menjadi negara-negara merdeka seperti : RMS, Papua Merdeka, Aceh Merdeka, dst nya, untuk bernasib seperti Rusia, terpecah-pecah.

John Pilger dalam bukunya yang berjudul “The New Rules of The World”, mengungkapkan dengan tandas sebagai plundered, sebagai perampokan massal, hal ini dilakukan sejak tahun 1967. Syukur alhamdulillah ummat Islam Indonesia merupakan garda depan mengawal NKRI menjaga dan memelihara keutuhannya. Namun NKRI hanya bisa kita pertahankan dengan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat lahir dan batin.

Selain memecah belah bangsa ini yang terus menerus mengalami keterpurukan ekonomi, politik bahkan moral, memang tidak terlepas dari global strategi kapitalisme global yang ingin memporakporandakan dunia Islam atau negeri-negeri muslim agar bertekuk lutut.

John Perkins, Konsultan bisnis Amerika Serikat memberikan pengakuan dalam bukunya : Confessions of Economic Hit man”, mengaku disewa oleh kekuatan kapitalisme global untuk merusak dan membuat ekonomi negara-negara berkembang termasuk Indonesia, menjadi terjajah dan sangat tergantung pada tuannya yakni Kapitaalisme Global. Yang lebih mengejutkan lagi John Perkins mengakui memulai startnya dari Indonesia. Negara-negara yang digarap dikondisikan untuk menjadi negara yang dililit hutang, selanjutnya sumber alamnya dikuras.

Selain itu merajalelanya korupsi bagaikan kanker ganas merasuk keseluruh tubuh bangsa menjadikan bangsa ini nyaris bangkrut. Di tingkat global Indonesia (dalam hal korupsi) menduduki peringkat ke 5 dan ditingkat Asia peringkat ke I.

Sementara rakyat kecil tertatih-tatih mempertahankan hidup akibat kenaikan BBM yang luar biasa, sementara itu elit politik (anggota DPR/DPRD) dan para menteri menikmaati kenaikan tunjangan dan gaji ditengah-tengah rintihan kaum dhuafa.

Disaat sebagian terbesar dari bangsa ini sedang berada dilorong perjuangan para pengambil keputusan sudah berpesta. Dana pencabutan subsidi itu sebagian sudah ditelan. Mereka berpesta diatas mayat para korban pengantre dana kompensasi, berpesta diatas amayat orang miskin yang tercekik kenaikan harga BBM, berpesta diatas keringat para buruh yang gajinya tergerus oleh kemahalan barang, berpesta diatas keringat petani dan nelayan yang tak mamapu lagi membeli minyaka tanah dan alat-alat produksinya. Karena itu, yang kita butuhkan adalah kepekaan nuraani, bukan kalkulasi rasional. Atau memang nurani elite kita sudah hilang ?
Bisa jadi nurani itu memang sudah lenyap digondol setan ketamakan. Kita mendengar di radio, menyaksikan di televisi, dan membaca di koran. Para politisi ini itu berteriak bahwa mereka menolak kenaikan tunjangan. Mereka kaget. Namun saat rapat paripurna mereka diam. Jadi, mereka sedang membuktikan kebenaran postulaat “berbedanya hati, lidah dan otak” untuk kesuksesan berpolitik. Sedemikian kotorkah kehidupan politik kita ?

Akhirnya tibalah kami di akhir khutbah Idul Fithri ini dengan mengajak jama’ah sekalian di hari yang mulia ini, di hari yang penuh barakah ini, menundukkan hati kita masing-masing, mendekatkan diri di hadapannya Yang Maha Besar dan Maha Kuasa, munajah dan berdo’a kepada-Nya Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.



Allahumma, Ya Allah, Tuhan kami

Kami yang berdo’a disini, di bumi-Mu yang subur dan indah ini, adalah hamba-hamba-Mu yang dha’if, hamba-hamba-Mu yang banyak berbuat khilaf dan dosa. Karenanya ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa kami, ampunilah juga yang Allah segala dosa orang-orang tua kami, dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminn dan mukminat di manapun mereka berada.

Ya Allah ya Tuhan kami betapa kami telah menzhalimi diri-diri ini. Nikmat-Mu alangkah besar, anugerah-Mu tak terkira, kami menghirup udara segar, kami meminum air-Mu penghapus dahaga ummat-Mu. Engkau karuniakan kami segala kenikmatan, segala kenikmatan namun terasa betapa kami tak pandai mensyukuri segala anugerah karunia-Mu itu.

Betapa tidak wahai Tuhan kami! Alangkah lemah semangat kami, alangkah beku hati kami, alangkah kelu lidah kami. Bagaikan tak berdaya membela agama-Mu, tak berdaya mengucapkan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil!

Ya Allah ya Tuhan kami, jangan engkau biarkan kami mengembara di tengah kegelapan dan kebathilan, tanpa petunjuk-Mu, jangan biarkan kami tersesat jalan tanpa bimbingan-Mu, jangan biarkan kami tenggelam dalam keserakahan, dalam ketamakan dunia, tanpa peringatan dari-Mu, jangan Engkau biarkan kami sendiri wahai Tuhan sekejap sekalipun!

Jadikanlah kami ummat yang pandai bersyukur ni’mah bukan ummat yang kufur ni’mah! Anugerah-Mu Ya Allah, alangkah besar, Indonesia yang permai, sumber alam yang kaya namun bangsa ini masih jauh dari sejahtera. Kembalikanlah ya Allah sifat-sifat amanah kepada pemimpin bangsa ini, keadilan, kejujuran, penegakan hukum dan penghargaan terhadap martabat kemanusiaan.

Ya Allah ya Tuhan kami betapa semakin hari bangsa ini semakin jauh dari firman-firman-Mu. Ajarilah kami ya Allah ya Rabb akan makna sabda Rasul-Mu: Qul Amantu billah tsummastaqiem! Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian bersikaplah istiqamah! Sabda yang amat sangat singkat dari Rasul-Mu itu seolah semakin tidak kami mengerti. Bahkan mereka yang menyandang sebagai pemimpin-pemimpin ummat semakin tidak istiqamah dalam melangkah, ya Allah ya Rabb, terasa diantara kami semakin menjauhi ‘aqidah-Mu, merendah-rendahkan syari’at-Mu bahkan ada yang menolak diberlakukannya syari’at-Mu. Mereka berlindung dibalik hujjah buatan manusia bukan bersikap sami’na wa atha’na terhadap ayat-ayat Mu. Ya Allah ya Rabb Tuhan kami, ajarilah kami ya Allah untuk memahami makna kalimah Tauhid La ilaha illallah simpul syari’at-Mu. Sehingga kami mampu menegakkannya, teguh mempertahankannya, tegar membelanya dan ….mengakhiri hayat kami ya Allah, ya Rabb al a’lamin dalam pelukan kalimah tauhid: La ilaha illallah!

Ya Allah Tuhan kami, belum banyak amal yang bisa kami persembahkan kepada-Mu, tanda kami mencintai-Mu. Namun curahkan selalu kasih sayang-Mu, hidayah dan maghfirah-Mu agar kami selalu menebarkan kebaikan menebarkan rasa kasih rahmatan lil ‘alamien.

Ya Allah Tuhan kami, berilah hidayah kepada kaum Muslimin di seluruh dunia, di Palestina, di Iraq, di Afghanistan, Kashmir, di seluruh jagat ini, berikanlah hidayah kepada pemimpin-pemimpin kami, hilangkan benih-benih tafarruq, perpecahan, gantikanlah ia dengan ishlah, ukhuwwah, mahramah dan mahabbah!

Jadikanlah pertemuan kami di tempat ini pertemuan daru kalbu-kalbu yang rindu akan rahmat-Mu, pertemuan dari hati-hati yang ikhlas menjalankan Risalah-Mu, syari’at Mu, da’wah-Mu, Istiqamah di jalan-Mu Jadikan pula perpisahan kami dari tempat ini perpisahan yang Engkau pelihara dari rasa perpecahan. Hapuskanlah segala khilaf dan dosa diantara kami yang hadir.

Ya Allah ya Tuhan kami, di antara kami yang berkumpul ini banyak yang telah lanjut usia, generasi muda kami tumbuh di tengah kemelut budaya, peliharalah mereka generasi di belakang kami agar tumbuh menjadi zurriyah yang saleh yang mampu meneruskan jejak risalah Rasul-Mu Muhammad Saw.

Ya Allah ya Tuhan kami, akhirnya kami pun memohon kepada-Mu, terimalah amal ibadah kami, shalat kami, puasa kami, zakat kami, sujud dan ruku’ kami, tilawah dan shadaqah kami, tasbih, tahmid, tahlil, takbir kami, jadikanlah ia wahai Tuhan penebus dosa-dosa kami.

Ya Rahman, ya Rahim, ya Mujibassailin, Engkau Maha Mengetahui, Engkau Maha Mengabulkan, Engkau Maha Mendengar. Kabulkanlah do’a dan permohonan kami.

Ya Arhamarrahimien Irhamna 3x
Walhamdulillahi Rabbil a’lamien.
Diposkan oleh Marhadi Muhayar, Lc., M.A. (Silahkan menukil dengan menyebut sumbernya) di 00:35
PEMBENTUKAN JATI DIRI MELALUI RAMADHAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Allahu Akbar, wa lillahilh hamd ....
Dengan bersyukur ke hadirat Allah Swt. atas karunia dan rahmat-Nya pagi hari yang berbahagia ini kita menyambut kedatangan hari yang agung, hari raya fitri, hari raya kemuliaan dan kesucian.

Dengan rasa haru dan penuh ikhlas, kita semua melepas bulan Ramadhan, bulan yang luhur dan mulia yang dipenuhi dengan ampunan dan karunia. Kita bertakbir, mengagungkan Allah Swt. dan mensucikan-Nya dengan bertasbih, mensucikan dari segala sesuatu yang tidak layak pada-Nya.

Takbir, tahlil dan tahmid silih berganti, berkumandang di angkasa raya diucapkan dengan lisan yang fasih denga penuh keikhlasan dan kepasrahan. Rona dan wajah setiap manusia muslim menanpakkan kebahagiaan yang cemerlang dan ketulusan yang mendalam, jauh sampai ke lubuk hati. Melukiskan kesan yang kuat dan mengakar ke dalam jiwa yang suci. Semua itu merupakan perwujudan dari pernyataan syukur kita, ke hadirat Allah Swt. atas segala karunia dan nikmat-Nya. terutama karunia yang paling agung berupa petunjuk dan hidayah-Nya. Hidayah itu membibing kita meniti cahaya yang terang benderang, menuju kehidupan yang sukses, lahir dan bathin. Kita bersyukur telah dapat melaksanakan ibadah shiyam sebulan penuh dengan ketabahan dan keikhlasan.

Artinya: Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, (al-Baqarah, 2 : 185)

Pagi ini, kita merayakan Idul Fitri, hari raya kesucian yang dinantikan kehadirannya oleh setiap insan yang beriman, dengan demikian kita kembali kepada fitrah, yaitu kemurnian dan kesucian. Kembali kepada kemurnian dan kesucian berarti kita kembali kepada suasana yang bersih telepas dari dosa dan kesalahan. Setiap orang yang melaksanakan puasa Ramadhan sesuai denga petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah akan terlepas dosa dan kesalahannya sehingga menjadi suci kembali, seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Kesucian yang telah kita peroleh dengan susah payah itu hendaklah terus dipertahankan sampai bulan-bulan berikutnya dengan meingkatkan iman dan takwa kita serta bertaqarub kepada-Nya dengan tunduk dan patuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Puasa Ramadhan yang baru saja kita jalani membentuk setiap diri umat Islam agar memiliki kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dan dapat meningkatkan potensi kesucian rohaninya. Ibadah shiyam dapat membentu jati diri muslim yang pari purna dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Iman dan takwa itu dibuktikan dengan senantiasa berpegang teguh kepa petunjuk-Nya, melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan mempertahankan kelestarian iman dan taqwa, kita meniti jalan yang lurus untuk mencapai keridhaan Allah Swt, keridhaan yang senantiasa didambakan oleh setiap manusia yang beriman. Menuju keridhaan yang agung dan luhur itu harus ditempuh dengan melaksankan ibadah dan amal shaleh secara ikhlas dan jujur, sesuai dengan ikrar kita yang selalu kita ucapkan dalam do’a iftitah yang dibaca pada saat awal melaksanakan shalat. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah) (QS. al-An’am : 162-163).
Pembentukan jati diri dalam ibadah shiyam merupakan aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan manusia mukmin, karena dengan jati diri itulah kita akan bersikap istiqomah dalam menjalani ajaran agama. Ibadah shiyam yang kita laksanakan, harus mampu membentuk jati diri setiap muslim dan meningkatkan kualitasnya dari tahapan yang paling rendah menuju tahapan yang paling tinggi.

Kaum muslimin, para jamaah yang kami muliakan.
Pembentukan jati diri itu, menuju perubahan pada yang lebih sempurna, sebagaimana yang dicontohkan oleh kehidupan para sahabat Nabi dan Tabiin generasi awal. Perubahan yang sangat mendasar menuju jati diri yang sempurna misalnya kita bisa mengambil contoh dar peristiwa berikut ini:
Pada suatu saat Rasulullah Muhammad Saw. menerima tamu, seorang pria dari kalangan musyrik Arab jahiliyah. Nabi menerima tamu itu sebagaimana layaknya beliau menerima tamu yang lain, dihormati selayaknya dan dipersilahkan duduk di ruang yang telah disediakan. Nabi Saw. menyuguhkan kepada tamu itu segelas air susu murni. Demikianlah kebiasaan dan kebangaan orang-orang Arab pada waktu itu, mereka sangat berbahagia sekali apabila dapat menyuguhkan pada tamunya air susu murni yang mereka perah dari kambing atau unta.

Setalah disuguhi segelas air susu, tamu itu meminumnya sampai habis. Kemudian Nabi menyediakan gelas yang keduanya, itupun diminum sampai habis lalu Nabi menyediakan gelas yang ketiga itupun diminum sampai habis. Hal itu terus berlangsung sampai tujuh gelas. Pertemuan itu kemudian berlalu begitu saja, tidak ada hal yang perlu dicatat, pria Arab jahiliyah kembali ke rumahnya dan Nabi pun melaksanakan aktivitas dakwahnya sebagaimana biasa.

Kira-kira beberapa bulan setelah itu, pria Arab jahiliyah tadi masuk Islam, sebagai seorang mualaf dia merasa ketinggalan dengan para sahabat lain, karena itu dia terus mempelajari agama dengan sungguh-sungguh dan mengamalkannya dengan baik. Dalam jangka waktu tidak begitu lama pria mualaf itu telah menjadi seorang muslim yang sangat baik. Setelah menjadi pria muslim yang baik dia mengujungi rumah Nabi kembali. Nabi menerima tamu mualaf ini, langsung teringat dengan kunjungan yang pertama dulu, kemudian Nabi menyediakan segelas air susu, sebagaimana dulu menyediakannya. Pria mualaf itu kemudian minum segelas air susu yang disediakan oleh Nabi sebagaimana dulu ia meminumnya.

Ketika Nabi akan menyediakan gelas yang kedua, tiba-tiba pria mualaf itu mengatakan, “Wahai Rasulullah cukup untukku, cukup untukku dengan segelas susu itu.” Nabi Saw. mengomentari sikap pria mualaf yang telah berubah drastis dari kebiasaan jahiliyahnya dan menggantinya dengan jati diri seorang muslim, beliau mengatakan:
الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
Seorang mukmin cukup meminum dengan satu gelas, sedangkan orang kafir baru puas minum dengan tujuh gelas. (HR. Muslim. No Hadis: 3843)

Dari contoh itu kita bisa melihat secara langsung betapa besarnya perubahan sikap dan jati diri dari seorang jahiliyah menjadi seorang mukmin. Pola hidup yang tadinya dipenuhi dengan kerakusan digantinya dengan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam pola makan, dalam pola berpakaian dan bertingkah laku. Manusia mukmin yang melaksanakan ibadah Ramadhan juga diarahkan agar melakukan perubahan yang besar dalam membentuk jati dirinya, dari manusia yang berkualitas rendah menjadi berkualitas tinggi menuju kesempurnaan sesuai dengan ajaran Islam. Puasa Ramadhan pada hakikatnya dapat membentuk jati diri seseorang menjadi pribadi yang berkualitas dan memiliki kemampuan yang tinggi dalam meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.Salah satu jati diri manusia mukmin adalah berpola hidup sederhana dan dapat mengendalikan nafsunya sehingga tidak terjerembab dalam lembah kehinaan dan kehancuran.

Ada tiga macam nafsu yang sering menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan yaitu nafsu dari dorongan perut, libido sexual, dan hawa nafsu yang menyesatkan. Nabi Saw. sangat mengkhawatirkan umatnya terjerembab dalam tiga macam nafsu yang menghancurkan itu, sehingga beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى
Artinya: “sesungguhnya aku mengkhawatiri kamu sekalian terjerembab dalam keinginan hawa nafsu dari dorongan perutmu, dorongan seksualmu dan hawa nafsu yang menyesatkan. (HR. Ahmad. No Hadis:18951)

Dalam kenyataan pada kehidupan modern yang kita jalani sekarang, dimana sikap hidup materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme, terus menggerogoti masyarkat kita, kita jumpai betapa banyakanya orang yang telah terjerembab dalam lembah kenistaan dan kehinaan. Ada sebagian dari masyarakat yang terjerembab ke dalam hawa nafsu perutnya sehingga ia menjadi budak perutnya sendiri, maka ia pun makan secara berlebihan, minum secara berlebihan, sehingga hidupnya hanya memenuhi dorongan perutnya. Orang seperti ini tergolong dalam kelompok manusia yang paling buruk dari umat Nabi Muhammad Saw.

Kalau orang pertama tadi menjadi budak perutnya sendiri, sehingga ia terjerembab dalam kehinaan dan kehancuran, sedangkan kelompok kedua banyak orang yang menjadi budak dari dorongan libidonya sehingga ia menjadi budak nafsu seksualnya. Keadaan seperti ini lebih membahayakan lagi, karena akan menimbulkan kerusakan dan kehinaan yang lebih parah. Banyak keluarga dan masyarakat yang hancur karena menjadi budak libido dan nafsu seksualnya. Akibat memperturutkan nafsu seksual banyak menyebabkan manusia bergelimang dengan dosa, seperti; perselingkuhan, perzinahan, dan timbulnya deviasi seksual yang mengerikan.

Kalau orang kedua tadi menjadi budak dari dorongan seksualnya sendir, maka kelompok yang ketiga, adalah manusia-manusia yang diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri, keadaan ini jauh lebih berbahaya lagi, karena memperturutkan hawa nafsu akan mencampakkan pelakunya menuju kehancuran yang sangat menakutkan. Bahkan terkadang hanya berapa detik saja orang tidak bisa mengendalikan hawa nafusnya ia telah terjerumus dalam kerusakan dan kehancurn dan penyesalan yang sangat berat selama-lamanya di dunia dan akhirat Karena itu Nabi menyatakan: “Musuhmu yang paling berbahaya adalah hawa nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu sendiri” (Ihya’ Ulumuddin).
Al-Qur’an memperingatkan orang-orang yang terjerembab dalam kemauan hawa nafsu yang menyesatkan, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ahqaf : 20.
Dan (Ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu Telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu Telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari Ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan Karena kamu Telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan Karena kamu Telah fasik".

Berbagai kejahatan timbul dalam kehidupan masyarakat, karena manusia memperturutkan hawa nafsunya sendiri.Ibadah puasa Ramadhan yang kita jalani sekarang ini, dapat melatih dan melindungi diri kita agar tidak terjerembab dalam kubangan hawa nafsu, sebagaimana yang disebutkan di atas. Dengan demikian puasa dapat membentuk jati diri yang paripurna, menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa.

Allahu Akbar, wa lillahil hamd
Hadirin dan hadirat yang mulia
Kembali kepada fitrah yang suci dan bersih itulah yang sesungguhnya kita jalani sekarang ini. Hari yang amat berbahagia ini dinamakan ‘Idul Fitri’, yaitu kesucian dan keutuhan yang telah kita peroleh kembali setelah kita melakukan puasa Ramadhan sebulan penuh. Karena itu hari ini adalah hari kemenangan dan kejayaan bagi kita semua, karena kita telah berusaha meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, ucapan yang paling tepat kita ikrarkan pada hari ini adalah suatu do’a:

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَآئِدِيْنَ وَالْفَآئِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ

“Wahai Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah yang memperoleh sukses dan kemenangan serta diterima amal ibadahnya oleh Allah Swt”.

Dengan kembali kepada fitrah, kita akan mencapai kebahagiaan dan kesuksesan lahir batin yang selalu kita harapkan. Sesuai dengan petunjuk Ilahi, marilah kita bertakbir mengagungkan asma Allah atas segala petunjuk-Nya dan marilah kita bersyukur atas segala rahmat dan karunia-Nya.
Semoga kita semua senantiasa dapat mengikuti petunjuk Allah dan senantiasa memperoleh rahmat-Nya. Amiin.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فََهُوَ سَعِيْدٌ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى عَنْهُ فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
***
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
Diposkan oleh Marhadi Muhayar, Lc., M.A. (Silahkan menukil dengan menyebut sumbernya) di 00:40
NABI MUHAMMAD SAW MAKHLUK TERAGUNG
(Fostur Tubuh dan Perawakan Rasulullah SAW)
Nabi Muhammad saw meskipun sama kejadiannya dengan manusia lain di muka bumi ini, namun bentuk lahiriah dan rohaniahnya tidak sama. Baginda mempunyai keistimewaan yang sama sekali tidak terdapat pada manusia-manusia biasa.
Sebagai manusia yang terbaik di muka bumi ini, Baginda dianugerahkan dengan keperibadian dan perwatakan yang istimewa kerana padanyalah terdapat contoh untuk diteladani.
Umum mengetahui keadaan yang zahir adalah gambaran yang terjelma dari unsur-unsur batin. Rupa paras seseorang boleh membantu menjelaskan keperibadian setiap individu. Ciri-ciri seperti bentuk badan, sifat fizikal dan rupa bentuk anggota adalah menggambarkan tentang akal dan akhlak seseorang. Begitulah dengan Nabi Muhammad saw. yang mempunyai bentuk badan yang indah dan segak, namun tidak dapat digambarkan oleh mana-mana pelukis potret di dunia ini. Allah mengharamkan penggambaran potret Baginda oleh sesiapa saja. Sungguhpun begitu sifat-sifat kecantikan baginda masih boleh diillusikan melalui pertuturan dan riwayat para sahabat dan tabi'in.
Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda. Ulama Yahudi berkenaan terpukau dengan raut paras dan akhlak baginda yang sudah tentunya milik seorang Rasul Agung di muka bumi ini.
Para sahabat yang sentiasa bersamanya sentiasa meneliti bentuk tubuh dan sifat-sifat Rasulullah SAW, tokoh kesayangannya secara terperinci. Baik secara lahiriah maupun psikisnya. Di antara kata-kata appresiasi mereka yang pernah melihat baginda saw:
• Aku belum pernah melihat lelaki yang se tampan Rasulullah SAW . Aku melihat cahaya memancar dari lidahnya.
• Seandainya kamu melihat Rasulullah, kamu akan merasa seolah-olah sedang melihat matahari terbit.
• Aku pernah melihat Rasulullah saw di bawah sinaran bulan. Aku bandingkan wajahnya dengan bulan, akhirnya aku sedari bahawa Rasulullah saw jauh lebih cantik daripada sinaran bulan.
• Rasulullah saw seumpama matahari yang bersinar. Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah saw.
• Apabila Rasulullah saw berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama dan dari situ kami mengetahui yang baginda sedang gembira.
• Kali pertama memandangnya, sudah tentu kamu akan terpesona.
• Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
• Wajahnya seperti bulan purnama.
• Dahi Baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya. Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
• Mata Baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
• Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
• Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
• Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
• Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun.
• Apabila berkata-kata cahaya kelihatan memancar dari giginya.
• Janggutnya penuh dan tebal menawan.
• Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna lehernya putih seperti perak sangat indah.
• Kepalanya besar dan sangat elok bentuknya
• Rambutnya sedikit ikal
• Rambutnya tebal kadang-kadang menyentuh pangkal telinga dan kadang-kadang mencecah bahu tapi disisir rapi
• Rambutnya terurai dan terbelah di bagian tengah kepala
• Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat
• Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa
• Seimbang antara kedua bahunya
• Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya , jarinya juga besar dan tersusun dengan cantik.
• Aku tidak pernah menyentuh sebarang sutera yang tipis mahupun tebal yang lebih lembut daripada tapak tangan Rasulullah saw.
• Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik. kakinya berisi, di tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air. Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
• Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran antara coklat dan putih. Warna putihnya lebih banyak.
• Warna kulit Baginda putih kemerah-merahan.
• Warna kulitnya putih tapi sehat.
• Kulitnya putih lagi bercahaya.
• Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh.
• Badannya tidak gemuk, kekar berisi/agak gempal.
• Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak.
• Perutnya tidak buncit.
• Badannya cenderung kepada tinggi. Semasa berada di kalangan orang ramai, baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka.
• Sekalipun baginda miskin dan lapar tapi tubuhnya lebih gagah dan sihat daripada orang yang cukup makan.Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih gagah dan berani daripada Rasulullah saw.
Begitu hebat personaliti dan ketokohan Baginda saw., makhluk terpuji dan teragung di muka bumi. Kesimpulannya Nabi Muhammad saw. adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.
MORAL & IKTIBAR
• Nabi Muhammad saw. adalah manusia terbaik pilihan Allah.
• Sifatnya yang terpuji merangkumi aspek fizikal dan rohani.
• Atas sifatnya yang superior inilah baginda dilantik menjadi pemimpin seluruh manusia di dunia ini.
• Baginda adalah manusia mithali yang serba lengkap dan serba kamil dan layaklah baginda tidak disentuh sebarang dosa lagi bersifat dengan maksum.
• Kepimpinan Baginda sepatutnya menjadi contoh teladan kepada semua manusia di muka bumi ini. Barangsiapa mentaati Allah tanpa mengakui kerasulan Nabi saw, nescaya Allah tidak menerima keimanannya.

REJAB/RAJAB BULAN ALLAH (Isra dan Mi'raj)
Rejab digelar bulan Allah. Dikatakan begitu kerana ia adalah satu bulan yang mulia di mana Allah telah bermurah hati mengampunkan dosa-dosa hamba-hambaNya, mengangkatkan darjat mereka serta melipatgandakan pahala mereka yang melakukan amal ibadat dalam bulan ini. Sekiranya dalam bulan-bulan biasa, satu kebajikan dibalas dengan 10, tetapi dalam bulan Rejab setiap kebajikan dibalas dengan 70. Dalam bulan ini juga Allah telah menjalankan Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj iaitu dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjid Aqsa dan dari sana pula dibawa ke Sidratul Muntaha, untuk menerima kewajiban solat 5 waktu sehari semalam.
Sempena bulan Rejab yang mulia ini, saya ingin membawa satu kisah untuk kita renungkan bersama.
Setiap kali kedatangan bulan Rejab, seorang abidah (waniita yang kuat beribadat) mewiridkan bacaan 'Qulhuwallahu Ahad' sebanyak 11 kali selepas solat Subuh. Ini dilakukannya setiap hari sepanjang Rejab pada tiap-tiap tahun. Usaha ini dilakukannya sebagai tanda memuliakan Bulan Rejab. Selain itu, wanita ini akan memakai pakaian yang kasar menggantikan pakaian biasa yang dipakainya pada bulan-bulan lain.
Suatu hari, dia jatuh sakit. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, wanita itu sempat berwasiat kepada anak-anaknya jika dia mati kafankannya dengan kain kasar yang dipakainya. Dalam keadaan yang tenang, wanita itu menghembuskan nafasnya yang akhir. Semasa mengkafankan jenazah ibunya, anak-anaknya terasa aib untuk menggunakan kain kapan yang sudah uzur dan lusuh, lalu menggantikannya dengan kain kafan yang baru.
Pada malam itu, anaknya bermimpi berjumpa ibunya. Ibunya bertanya mengapa mereka tidak mematuhi wasiatnya. Perbuatan mengkafannya dengan kain baik menyebabkan ibunya tidak meredhai mereka. Sebaik saja anaknya terjaga, dia berasa amat sedih dan menyesal atas perbuatannya. Dia segera ke kubur pada malam itu juga lalu menggali kubur ibunya untuk menggantikan dengan kain kafan yang lusuh. Alangkah terperanjatnya apabila mendapati mayat ibunya tidak ada di situ.
Anaknya berasa amat hairan. Tiba-tiba kedengaran satu suara 'Hai anak! Tidakkah kau tahu bahawa orang yang memuliakan bulan Rejab tidak akan bersendirian di dalam kubur.' Mendengar suara itu, anaknya segera faham. Dia pun menimbus semula kubur yang digalinya lalu beredar dari situ.
MORAL & IKTIBAR
• Sesiapa yang memuliakan bulan Rejab akan dimuliakan Allah.
• Allah lebih suka melihat hambaNya yang beramal sedikit tetapi berkekalan daripada mereka yang beramal banyak tetapi tidak kekal.
• Kita hendaklah mencari keredhaan ibu kerana keredhaan Allah bergantung pada keredhaannya.
• Syurga di bawah tapak kaki ibu. Dalam kata-kata lain salah satu syarat untuk memasuki syurga ialah mentaati kedua ibu bapa.
• Anak yang taat akan segera meminta keampunan daripada ibubapa jika dia melakukan kesalahan.
• Orang yang memuliakan bulan Rejab akan dimasukkan ke dalam syurga.
• Liang lahad (tanah perkuburan) menjadi pintu syurga bagi mereka yang beramal soleh. Sebaliknya akan bertukar menjadi pintu neraka bagi mereka yang kufur dengan Allah.
• Liang lahad menjadi amat luas dipenuhi dengan taman syurga untuk mereka yang taat kepada Allah dan RasulNya.
• Liang lahad juga menjadi amat sempit dengan dipenuhi dengan ular dan kala jengking yang sentiasa menyeksa mayat yang kufur dan sentiasa membuat maksiat di dunia ini.
• Kejadian ini berlaku adalah kerana Allah hendak membukakan rahsia balasan Allah kepada orang yang memuliakan bulan Rejab.
• Setiap sesuatu yang berlaku di dunia ini tidak berlaku secara sia-sia. Bahkan ada sesuatu yang tersirat di sebaliknya. Inilah yang perlu kita fikirkan untuk diambil iktibar.
• Amal ibadat semasa hidup menjadi teman sejati semasa di kubur. Harta kekayaan yang dikumpul semasa di dunia belum tentu menjamin kebahagiaan di akhirat. Wallahu 'Alam.

TAKHTA BERNILAI SECANGKIR MINUMAN
Seorang Sufi, Ibnu Sammak mengadap raja dengan membawa secangkir minuman. Raja itu meminta sedikit nasihat daripada Ibnu Sammak. Ibnu Sammak bertanya raja, "Katakanlah tuanku dalam kehausan yang amat sangat dan hanya terdapat secangkir minuman yang ada di tangan saya ini. Relakah tuanku membayar secangkir minuman ini dengan seluruh harta benda tuanku?" Raja itu mengatakan, "Sudah tentu."
Orang sufi itu meneruskan, "Kalau tuanku terpaksa menyerahkan takhta kerajaan tuanku untuk menghilangkan kehausan itu, bagaimana, bolehkah tuanku serahkan?". Raja menjawab, "Sudah tentu aku serahkan!"
Ibnu Sammak lantas berkata, "Nah tuanku, janganlah tuanku bergembira dengan takhta kerajaan yang nilainya hanya seteguk minuman!"
MORAL & IKTIBAR
• Seorang yang bagaimana tinggi sekalipun pangkatnya perlu merujuk kepada ulama untuk kebahagiaan dan keselamaatn di akhirat
• Kurniaan Tuhan berupa secangkir air untuk menghilangkan dahaga saja lebih besar nilainya daripada takhta kerajaan seluas bumi
• Janganlah sombong dan bongkak dengan apa yang ada pada kita kerana itu juga adalah kurniaan Allah.
• Setiap nikmat dan kurniaan perlulah kita syukuri dan lahirkan kesyukuran kepada Allah yang mengurniakannya.
• Sekiranya kita bersyukur atas nikmat Allah, nescaya akan diberikan tambahan nikmat. Sebalinya jika tidak bersyukur, azab Allah yang amat pedih menunggu kita di akhirat nanti.
SATU AMALAN NILAINYA SYURGA
Di padang Mahsyar segala amalan manusia ditimbang oleh Allah. Mana yang lebih banyak pahala dimasukkan ke syurga sementara yang berat timbangan dosa dihumban ke neraka. Seorang hamba Allah didapati kurang satu amalan (mata) saja untuk melayakkan dia masuk ke syurga. Jika mengikut perkiraan, dia adalah calon neraka tapi Allah Maha Penyayang akan hambanya. Allah memerintahkan orang itu mencari satu lagi mata untuk melayakkan dia ke syurga. Puas dia merayau dan mengemis dari seorang ke seorang untuk mendapatkan satu kebajikan saja namun hampa. Masing-masing memerlukan walau satu kebajikan. Kesemuanya mengatakan nasib mereka belum menentu, bagaimana hendak memberikan satu pahala.
Namun dia tidak berputus asa. Akhirnya berjumpa dengan seorang hamba Allah yang bersimpati dengannya. Dia mengatakan hidupnya bergelumang dengan dosa dan sepanjang hidupnya hanya membuat satu kebajikan saja. Padanya satu pahala itu tidak membawa sebarang makna, kerana menyangkakan dia akan masuk ke neraka akhirnya. Oleh sebab simpatinya kepada orang itu, dia memberikan satu pahala itu kepadanya. Dengan gembira yang tidak terhingga dia kembali menghadap Allah membawa pahala tersebut. Dia menerangkan apa yang berlaku. Oleh sebab sikap penderma yang pemurah itu, Allah menyuruh orang itu mencari penderma berkenaan untuk dimasukkan bersamanya ke dalam syurga.
MORAL & IKTIBAR :
o Allah bersifat dengan AR-RAHIM
o Jangan remehkan kebajikan walaupun hanya amalan sunat
o Satu kebajikan amat berat timbangan di sisi Allah Satu amalan boleh meletakkan diri sama ada syurga atau neraka
o Di padang mahsyar semuanya nafsi-nafsi; masing-masing mau melepaskan diri dari azab yang pedih
o Orang yang pemurah akan dirahmati Allah yang bersifat dengan Pemurah
o Penghakiman di akhirat amat teliti serta berlandaskan keadilan yang hakiki

SI-BUTA DAN GAJAH
Dalam suatu negeri terdapat sekumpulan orang buta. Mereka mendengar berita satu sarkis datang ke tempatnya dengan membawa bersama seekor haiwan ajaib bernama gajah. Naluri ingin tahu mereka melonjak kerana selama ini mereka belum pernah melihat rupa atau mengenalinya bahkan nama gajah pun mereka belum pernah dengar.
Kata sepakat diambil untuk menghantar wakil ke tempat itu. Salah seorang berkata meskipun kita buta tapi kita masih boleh mengenalinya dengan cara meraba. Perwaklilan yang dilantik terus ke tempat itu. Sebaik saja sampai, masing-masing terus memainkan peranan. Ada yang terpegang kaki gajah, ada yang terpegang gading dan sebahagian lain memegang telinga gajah.
Setelah puas meraba, mereka pun kembali ke kampungnya. Mereka dihujani dengan pelbagai pertanyaan oleh orang-orang buta yang tidak pergi dan ingin mengetahui bentuk gajah ajaib itu. Orang yang terpegang kaki gajah mengatakan gajah itu seperti tiang besar, kesat tapi lembut pada sentuhan. Kenyataan ini dibantah keras oleh orang yang terpegang gajah pada gading. Dia mengatakan gajah tidak kesat, tidak lembut dan jauh sekali dari berbentuk seperti tiang seperti yang dilaporkan oleh orang pertama tu, sebaliknya katanya gajah keras dan licin dan hanya sebesar galah saja. Kenyataan ini disanggah oleh pelapor ketiga yang memegang gajah pada telinga. Dia bersetuju dengan pelapor pertama yang mengatakan gajah itu kesat dan lembut tetapi tidak bersetuju bentuknya seperti tiang atau galah. Dia menegaskan bahawa gajah itu kesat, lembut dan saiznya hanya seperti kulit terkembang yang tebal sebesar dulang.
Orang-orang buta lain yang ingin mendengar cerita mengenai bentuk gajah itu melopong kebingungan.
MORAL & IKTIBAR
o Naluri ingin tahu yang ada pada setiap orang mendorong mereka untuk menyelidik
o Penggunaan satu deria saja tidak memadai untuk mengetahui sesuatu fakta secara syumul dan terperinci
o Pendapat seseorang mengenai sesuatu perkara adalah betul dari satu persepsi/sudut saja
o Penguasaan ilmu perlu menggunakan teknik gabungan pelbagai media dan juga melalui 'brainstorming'
o Jangan lekehkan pandangan orang lain kerana ia adalah betul dari sudut pandangannya
o Melekehkan pendapat orang menyekat diri kita dari menguasai ilmu secara global
o Dapatkan fakta atau maklumat mengenai sesuatu dari banyak sumber dan cara
o Maklumat yang diperolehi secara 'second-hand' belum dapat dipastikan kesahihan; jauh sekali untuk dijadikan dalil atau hujah.

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, ketika dia berjalan-jalan dia terlihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis. Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"

Maka berkata anak kecil itu, "Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka." Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka." Berkata anak kecil itu, "Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa." Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

SAKIT MATA SEMBUH DENGAN WUDLU
Suatu hari Junaid Al-Baghdadi sakit mata. Ia diberitahu oleh seorang tabib, jika ingin cepat sembuh jangan sampai matanya terkena air.

Ketika tabib itu pergi, ia nekad berwudhu membasuh mukanya untuk sholat kemudian tidur. Anehnya, sakit matanya malah menjadi sembuh. Saat itu terdengar suara "Junaid menjadi sembuh matanya kerana ia lebih ridha kepada-Ku". Seandainya ahli neraka minta kepada-Ku dengan semangat Junaid niscaya Aku luluskan permintaannya." Kata suara itu. Tabib yang melihat mata Junaid sembuh itu menjadi keheranan, "Apa yang telah engkau lakukan?" "Aku telah membasuh muka dan mataku kemudian sholat", ujarnya." Tabib itu memang beragama Nashrani, dan setelah melihat peristiwa itu, dia beriman. "Itu obat dari Tuhan yang menciptakan sakit itu. Dia pulalah yang menciptakan obatnya. Aku ini sebenarnya yang sakit mata hatiku, dan Junaidlah tabibnya."
Diposkan oleh Marhadi Muhayar, Lc., M.A. (Silahkan menukil dengan menyebut sumbernya) di 00:48
KHUTBAH JUMAT (Masjid dan Kuburan)
MASJID DAN KUBURAN
Marhadi, Lc., M.A.
Khutbah Jumat Pertama

الحمد لله العزيز الغفور، الذي جعل في الإسلامِ الحنيفِ الهُدَي والنور، الذي قال: (وما الحياةُ الدنيا إلا مَتَاعُ الغرور)، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خاتم الأنبياء والمرسلين، وعلي آله الطيبين، وأصحابه الأخيار أجمعين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ الله تَعَالَى في القرآن العظيم: (يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ). وَقَالَ أَيْضًا: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا). أَمَّابَعْدُ؛
Hadirin, jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah SWT!
Pada kesempatan shalat Jumat yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan suatu topik permasalahan yang cukup penting, yang akhir-akhir ini cukup meresahkan sebagian kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah SWT. Suatu permasalahan yang dahulunya itu adalah bukan suatu masalah, namun sekarang dijadikan masalah. Bahkan menyeret kepada perpecahan umat. Padahal apa yang mereka yakini, bahkan mereka paksakan kepada kita, sebenarnya adalah suatu kekeliruan dan kesalahan fatal.

Lebih jelasnya, saya akan menyampaikan suatu topik permasalahan tentang kuburan dan mesjid, atau apa hukumnya jika ada suatu mesjid yang di dalamnya atau di sampingnya ada kuburan?

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh...
Perlu kita sadari bersama, bahwa di zaman kita sekarang ini sangat banyak fitnah yang terjadi di dalam tubuh umat Islam. Di antara fitnah-fitnah itu adalah timbulnya suatu aliran baru di awal abad 19. Aliran ini banyak berpegang kepada pendapat seorang ulama kontroversial yang hidup di abad ke-7 H./13 M. Faham ini telah memporak-porandakan persatuan dan kesatuan umat. Mereka secara sadar ataupun tidak sadar, secara âlim ataupun jâhil, disengaja maupun tidak, dengan niatan baik ataupun buruk, telah berani mengkafirkan saudara-saudaranya yang seiman dan seakidah, saudaranya yang meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasulullah.

Di antara faham yang mereka usung, sampai terkadang rela mengkafirkan umat ini adalah tentang sabda Nabi SAW yang berbunyi:

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ (متفق عليه)
“Allah SWT melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai mesjid.”
Pemahaman yang benar dari hadis ini sesungguhnya adalah, bahwa kuburan itu yang dijadikan sebagai mesjid, bukan kuburan yang menempel atau ada di salah satu ruangan di dalam mesjid. Karena sesuatu yang menempel dengan kuburan bukanlah kuburan. Bangunan mesjid yang ada kuburan di dalamnya, tidak disebut sebagai kuburan. Demikian juga, kuburan itu tidak dikatakan sebagai mesjid. Jika demikian adanya, berarti tidak ada sesuatu yang diperdebatkan di dalam kandungan hadis ini, karena tuduhan dengan yang dituduhkan tidak terbukti. Ini jika kita memahami hadis ini dari sisi lahiriahnya atau jika kita ingin menelan mentah-mentah arti hadis ini apa adanya seperti yang mereka inginkan.

Sebagai pertimbangan, mari kita coba simak firman Allah SWT dalam surat al-Kahfi ayat 21:
قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا(21)
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka (yakni orang-orang yang beriman) berkata, “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah mesjid di atas kuburan mereka.”
Lahiriah ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka” di dalam ayat ini adalah orang-orang beriman. Karena mesjid dibangun oleh orang-orang beriman. Sedangkan orang-orang kafir mendirikan bangunan bukan mesjid seperti perkataan mereka dalam ayat ini, “Ubnû ‘alaihim bun-yânâ” yang artinya “dirikanlah sebuah bangunan di atas kuburan mereka”. Dari ayat ini dapat difahami, bahwa Allah SWT menyetujui dan menguatkan keberadaan orang-orang beriman yang membangun mesjid di atas makam orang shaleh, para Ashabul Kahfi. Bahkan, dirasakan ada semacam pujian ketika kuburan mereka dijadikan sebagai tempat untuk menyembah Allah SWT. Jika tidak demikian halnya, pasti Allah SWT akan memperjelas maksud dari ayat tersebut. Maka ayat ini menunjukkan bahwa membangun mesjid di atas kuburan adalah boleh.

Hal ini juga pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Seorang sahabat mulia yang bernama Abu Jandal bin Suhail telah membangun mesjid di atas kuburan seorang sahabat lain yang bernama Abu Bashîr ast-Tsaqafi dengan dihadiri oleh sekumpulan sahabat Rasulullah SAW yang lain, dan itu dilakukan di saat Rasulullah SAW masih hidup dan atas sepengetahuan beliau tanpa beliau ingkari. Riwayat lengkap hadis ini bisa hadirin temukan di dalam kitab-kitab turats terkenal, semisal kitab Asadul Ghâbah pada juz 5 halaman 35. Kitab hadis Sunanul Kubra karya ulama hadis terkemuka; Imam Baihaqi pada juz 9 halaman 227, kitab Al-Istî’âb karya Ibnu Abdul Bar pada juz 4 halaman 21, maupun kitab-kitab lain seperti riwayat Ibnu Ishaq dalam kitab As-Sîrah, riwayat Abu Mûsa dalam kitab al-Maghâzi. Ini alasan yang pertama.

Yang kedua, Rasulullah SAW telah dikuburkan di dalam rumah Siti Aisyah atas wasiat Rasulullah SAW sendiri. Beliau bersabda,
مَا قُبِضَ نَبِيٌّ إِلاَّ دُفِنَ حَيْثُ قُبِضَ (رواه ابن ماجه في سننه 1\520، والبزار في مسنده 1\55، وأبو يعلي في سننه 1\31،32، وابن عبد البر في التمهيد 24\399)
“Seorang nabi tidak dikuburkan kecuali di tempat dia wafat.”
Sedangkan rumah Siti Aisyah menempel erat dengan mesjid, dan pintunya terbuka lebar serta nampak dari dalam mesjid. Para sahabat –sebagai orang-orang yang paling mengerti betul tentang Islam— tidak pernah menutup dan merapatkan pintu rumah Aisyah ini sepeninggal Rasulullah SAW. Tidak seorang pun sahabat Rasulullah maupun para Tabiin setelahnya yang mengingkari kenyataan ini, padahal di tempat itu selalu didirikan shalat maupun rutinitas keagamaan yang lain. Maka sikap para sahabat ini merupakan ijma sahabat atau suatu kesepakatan seluruh sahabat Rasulullah SAW atas bolehnya kuburan menyatu dengan mesjid. Realitas tentang kuburan yang menyatu dengan mesjid ini bisa diartikan sebagai sunah para sahabat nabi yang lurus. Dalam hadis shahih dikatakan,
عليكم بسنتي وسنتة الخلفاء الراشدين من بعدي عضوا عليها بالنواجد (رواه أحمد 4\126، وأبو داود 4\200، والترميذي 5\44، وابن ماجه 1\15، وابن حبان في صحيحه 1\179، والحاكم في المستدرك 4\126).
“Kalian harus berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafâurrâsyidîn sepeninggalku, genggamlah erat-erat.”

Sampai-sampai, pada masa khilafah Bani Umayah, semua yang tejadi dengan makam Rasulullah SAW ini berkaitan dengan perbaikan bangunan fisik makam Rasulullah SAW, dan tidak ada seorang pun dari imam-imam mazhab yang empat (Abu Hanifah An-Nu’man, Malik bin Anas, Syafi’i, Ahmad bin Hamabl) maupun orang-orang yang hidup sebelumnya meminta untuk mengeluarkan makam Rasulullah SAW atau setidak-tidaknya lingkungan makam Rasulullah SAW dari dalam mesjid, padahal mereka mengetahui hadis tentang larangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah atau mesjid. Bahkan makam Rasulullah SAW selalu ramai dikunjungi seusai para sahabat menunaikan shalat.

Yang Ketiga, Sejarah telah mencatat dan menegaskan bahwa kuburan Nabi Ismail AS ada di bekas reruntuhan di bawah dinding Ka’bah bersama kuburan-kuburan yang lain. Jika keberadaan kuburan di dalam mesjid suatu yang terlarang sebagaimana faham yang mereka anut, maka hadis masyhur dari Rasulullah SAW tentang shalat di dalam mesjidil Haram lebih baik dari shalat di tempat lain di muka bumi ini menjadi tidak benar. Paling tidak, Rasulullah SAW pasti akan memerintahkan untuk menggali atau memindahkan keberadaan kuburan itu. Namun Rasulullah tidak melakukan itu.
Begitu juga dengan kuburan-kuburan yang ada di dalam mesjid Al-Aqsa di Palestina. Telah dapat dipastikan dan ditetapkan, bahwa di sana banyak kuburan para nabi dari keturunan nabi Ibrahim AS. Sebagaimana kita tahu bersama, Rasulullah SAW melakukan shalat di sana pada malam Isra dan Miraj. Mesjid Aqsha juga sebagai mesjid ketiga yang paling afdhal dan besar pahalanya di dalam mendirikan shalat.
Dalam hadis riwayat Bazzâr yang seluruh para perawi hadisnya terpercaya disebutkan, bahwa di atas mesjid Khaif yang ada di Mina terdapat puluhan kuburan orang-orang shaleh. Nabi SAW, para Sahabat, juga para Tabiin shalat di dalamnya tanpa ada satu orangpun yang mengingkari.

Yang Keempat, Mesjid-mesjid semacam ini sengaja dibangun di sisi kuburan berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan tadi. Juga untuk memperoleh berkah dan rahmat dari Allah SWT atas pembacaan Al-Quran yang dilantunkan di dalam mesjid, dzikir dan kumandang azan, berharap mayit di dalam kubur mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah atas kedekatannya di sisi mesjid. Jika si mayit adalah orang yang alim dan shaleh, semoga dia menjadi contoh dan suri tauladan bagi yang masih hidup.

Yang Kelima, Dari sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang, tidak ada satupun ulama Islam yang mengatakan haram hukumnya jika kita shalat menghadap kuburan atau shalat di atas kuburan, kecuali seorang ulama kontroversial yang saya sebutkan tadi. Hukum shalat menghadap kuburan atau di atas kuburan adalah boleh, paling maksimal adalah makruh tidak haram. Di dalam kitab Mudawwanah Kubra karya Imam Malik (seorang Imam Mazhab dalam Islam) sangat jelas disebutkan, “Ibnu Qâsim sahabat Imam Malik ditanya, “Apa pendapat Imam malik jika ada seseorang yang shalat di depan kuburan. Ibnu Qasim menjawab, “Imam Malik tidak melihat ada masalah jika seseorang shalat di depan kuburan. Bahkan dia sendiri jika shalat, kuburan terkadang ada di depannya, atau di belakangnya, atau di samping kanan dan kirinya,”. Sehingga Imam Malik berkata, “Telah sampai hadis kepadaku, bahwa para sahabat Rasulullah SAW shalat di kuburan.” Coba kita perhatikan sekali lagi! Anehnya, kelompok faham ini mengklaim bahwa Imam Malik melarang umat Islam untuk shalat di depan kuburan.

Oleh karena itu, Siti Aisyah tinggal dan menetap satu ruangan dengan makam Rasulullah SAW. Di ruangan itu juga ada makam sahabat yang lain; Abu Bakar dan Umar ra.

Yang Keenam, yang masih ada kaitannya dengan hukum shalat di kuburan atau menghadap kuburan adalah pendapat Imam Malik, seorang ulama hadis dan Imam Mazhab. Beliau mengatakan bahwa larangan untuk duduk di atas kuburan adalah larangan untuk duduk membuang hadas seperti kencing dan buang air besar. Beliau mengatakan boleh hukumnya untuk duduk di atas kuburan dengan dalil hadis shahih bahwa Sayidina Ali Karamallahu Wajhah dan para sahabat yang lain menggelar tikar, duduk dan tidur di atas kuburan. Sedangkan Sayidina Ali ra. digelari oleh Rasulullah SAW sebagai kota ilmu. Dalam hadis lain dikatakan Sayidina Ali ra. sebagai pintu dari kota ilmu. Oleh karena itu, maka dapat dipastikan, bahwa arti duduk dalam hadis itu adalah kinayah atau kiasan yang berarti duduk untuk buang hajat.

Adapun tuduhan bahwa menguburkan mayit di sisi mesjid sebagai suatu kemusyrikan adalah fitnah, tidak rasional, bukan akhlak islami, penyelewengan agama, penggelapan ilmu, dusta yang nyata kepada Allah SWT dan nabi-Nya, kepada para ulama dan orang-orang mukmin. Na’ûdzubillâh… Karena kita semua mengetahui bahwa kita tidak menyembah dan meminta kepada kuburan. Hadis لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ (متفق عليه) . “Allah SWT melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai mesjid.” Adalah larangan untuk menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shaleh sebagai sesuatu yang disembah dengan menyekutukan Allah SWT. Para sahabat Rasulullah SAW dan ulama hadis memahami larangan Nabi SAW dalam hadis:
"لا تصلوا إلي قبر ولا تصلوا علي قبر"
"Janganlah kalian shalat menghadap dan di atas kuburan” sebagai pemahaman tauhid, yaitu larangan bagi orang yang tauhidnya kepada Allah SWT masih lemah, sehingga dikhawatirkan dia akan goyah dan salah pemahaman ketika dia shalat menghadap kuburan. Oleh karena itu Nabi SAW bersabda,
"كنت نهيتكم عن زيارة القبر فزوروها".
“Dahulu aku melarang ziarah kubur, tetapi sekarang ziarahilah oleh kalian”.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Ada cerita bagus untuk perenungan. Mata saya selalu basah kalau mendengar cerita ini. Saya sarikan dari Insipring Audio By Budi Prayitno. Semoga bermanfaat dan menginspirasi!
******
Seorang ayah sedang memerikasa buku pe-er anaknya, “Lho kok pe-er matematikanya belum dikerjakan. Bukankah ini PR untuk besok? Kenapa kakak tidak segera mengerjakannya?” tanya sang ayah dengan lembut. Anak kelas 3 SD itu menjawab, “Sebentar yah, aku kerjakan sebentar lagi,” katanya juga dengan suara yang lembut.
“Jangan begitu dong, pe-er untuk besok harus dikerjakan sekarang. Tidak ada waktu lagi. Ayo kerjakan”. Ayah yang peduli itu mulai memerintah dengan suara yang lebih tinggi dan tatapan yang lebih tajam. Anak kecil usia 8 tahun itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Dengan langkah yang berat dia pun mengambil buku dan pena dan mulai mengerjakan pe-ernya.
Satu-dua soal mulai dikerjakan. Di nomor berikutnya, ia tampak tidak konsenterasi. Hitungan sederahana pun tampak seperti perhitungan matematika yang rumit. “4 x 8 berapa?” Ayahnya bertanya. Anak itu mentap langit-langit rumah dan menjawab, “Tiga puluh, eh… salah ya?” katanya ketika melihat ayahnya menatap dengan sorot mata heran bercampur marah.
“Bagaimana kakak ini? 4 x 8 saja tidak bisa. Kakak khan sudah kelas 3, masa mau turun lagi ke kelas 2? atau ke kelas 1? Ayo jawab cepat! Berapa 4 x 8?”. Suasana belajar telah berubah menjadi pengadilan atau ruang interogasi. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan dengan nada yang cepat dan tidak bersahabat. Ayah dan anak telah berganti peran menjadi seperti musuh yang berhadapan. Namun sangat tak seimbang, seperti Nabi Daud melawan raksasa Jalut.
Dengan air mata yang mengalir di pipi, anak kecil itu berhasil juga menyelesaikan pe-ernya yang hanya 10 soal selama 2 jam. Lalu ia pergi ke kamar tidur dengan wajah tertunduk seperti seorang petinju yang babak belur dihabisi lawan atau seperti sang kapten bola yang gagal mengeksekusi penalti di final kejuaraan sepakbola dunia.
Ya, begitulah mereka yang kalah atau dikalahkan. Mereka yang mengerjakan sesuatu atas pesanan dan tak tersisa ruang untuk mengekspresikan dirinya. Harus sekarang! Dengan cara saya dan ukuran yang saya tetapkan. Di luar itu apapun yang dihasilkan tak masuk hitungan.
Dengan rasa penasaran yang masih menggantung, ayah yang peduli itu menengok anaknya di tempat tidur. Ketika itu emosinya sudah reda dan dia merasakan sedikit rasa bersalah di dalam hatinya. Dia pun bertanya kepada anaknya, “Kakak, kenapa sih tadi seperti tidak punya perhatian kepada pelajaran? Ayah tahu kakak pintar tapi kenapa pe-er tidak dikerjakan? Kok 4×8 saja kakak tidak bisa jawab,”
Anak kecil itu kemudian menjawab masih dengan mata yang sembab. “Ayah, waktu ayah menyuruh kakak mengerjakan pe-er, kakak sedang ngafalin hadits. Besok malam, malam minggu ada tampilan anak-anak TPA. Anak-anak ikhwan di kelompok kakak, harus menampilkan hafalan 20 hadits. Kakak yang ditunjuk sama ustadz untuk jadi pemimpinnya. Kelompok kakak 5 orang, masing-masing harus hafal 4 hadits. Tapi kakak kan yang jadi pemimpin?!, kalo ada teman yang lupa, kakak harus mengingatkannya. Supaya kelompok kakak dapat nilai yang bagus dari ustadz. Waktu ayah menyuruh kakak mengerjakan pe-er tadi, kakak sedang menghafal hadits, sudah 18 hadits ayah, tinggal dua lagi yang kakak belum hafal. Asalnya, kalau sudah hafal yang dua hadits itu, kakak langsung ngerjakan pe-er” katanya sambil menatap wajah ayahnya.
Ayah yang termangu sejak tadi itu lalu segera memeluk anaknya dan berkata, “Maafkan ayah ya? Maafkan ayah yang sok tahu…”
Dua bulan terakhir ini, saya mengikuti sebuah kegiatan yang diadakan oleh lembaga muslimah salman, yaitu sekolah pranikah. Kegiatannya sendiri lebih seperti perkuliahan yang diadakan satu minggu sekali. Materi yang diberikan bermacam-macam, mulai dari persiapan diri pranikah, prosesi pernikahan, hak dan kewajiban rumah tangga, psikologi adam hawa, kesehatan, sampai ke manajemen keuangan keluarga.

Hari Sabtu kemarin merupakan acara penutupan dari rangkaian materi yang saya dapat selama delapan pekan terakhir tersebut. Pemberi materi pamungkasnya adalah Ust. Budi Prayitno. Banyak cerita menarik dari beliau sepanjang pertemuan terakhir tersebut yang cukup mengaduk-aduk emosi saya (memang paling seru kalo mendengar kisah seru kehidupan orang lain..apalagi yang mengharukan huhu) dan kali ini saya ingin membagi salah satu kisah yang diberikannya kala itu -yang membuat saya saeutik balilihan- ='(

Tersebutlah Mas Eko dan Teh Dian, muda mudi kampus pada masanya. Sang jajaka insinyur lulusan institut ternama, sang mojang adalah bunga dari kampus yang sama, idola banyak pria. Ternyata Tuhan mempertemukan mereka sebagai jodoh satu sama lainnya, menikahlah mereka. Ketika ditanya "bagaimana mas eko rasanya mendapatkan bunga kampus?" Beliau menjawab, "wah perjuangannya luar biasa, persaingan ketat, tapi alhamdulillah saya yang terpilih"
Tak bisa dipungkiri, rasa bangga selalu menyelimuti.
9 tahun pernikahan tak selalu berjalan indah seperti di awal, mereka belum juga dikaruniai keturunan. Belum lagi cobaan itu terlewati, datang pula ujian lainnya : Teh Dian divonis menderita penyakit lupus. Akan tetapi ujian-ujian itu malah membuat kebersamaan semakin terasa.

Penyakit lupus ini tak ramah, mulai menyerang rahim sang istri tercinta. Sampai akhirnya 9 tahun penantian menjadi orang tua ditamatkan dengan harus diangkatnya rahim dari teh dian. "uterina, nama anak kita yang pertama yaa" diucapkannya sambil tersenyum pada teh dian ketika uterus sang istri telah diangkat melalui operasi. =(

Belum selesai sampai di situ, beberapa waktu kemudian bagian otak pun mulai terganggu oleh sang penyakit, hingga harus dilakukan operasi pemasangan selang pada bagian kepala (saya sendiri bingung seperti apa dan kenapanya.. bahkan untuk membayangkannya saja tak tega). Karena sudah berhubungan dengan otak tentu saja kesadaran pun ikut terganggu. Akhirnya rumah pun mulai ditata seperti rumah sakit, untuk merawat inap teh dian sang istri pujaan.

Dengan kondisi istri yang sudah tak bisa lagi "berbakti", tentu saja mengundang banyak pertanyaan di hati orang-orang. Pak ust. Budi pun sempat bertanya kepada Mas Eko

"Mas, ga ada niatan untuk cari istri lagi?" kemudian dijawab

"Wah Kang Budi, Dian itu lagi sakit, saya ga mau nambah satu lagi sakit di hatinya karena saya mencari istri lagi"

(krik..krik.. udah mulai kasuat-suat hati saya denger jawaban ini)

"Hmm.. lalu gimana perasaannya setiap hari berhadapan dengan orang sakit mas?"

"Ahh kan Kang Budi sendiri yang pernah bilang sama saya, kalau kita menengok orang yang sakit, 70000 malaikat akan mendoakan kita. Nah kebayang kang, saya setiap malem meluk orang sakit, setiap malam 70000 malaikat mendoakan saya. alhamdulillah"

Subhanallah.. ketegaran luar biasa, kecintaan luar biasa. Balilihan lah saya ketika itu, sambil sedikit di tahan, da malu atuh banyak orang =P

*saya memang paling mudah terharu ketika mendengar kisah tentang kehilangan atau kisah cinta yang tulus dari seseorang terhadap pasangannya. Seperti waktu baca blognya kang fanny yang baru saja ditinggal oleh sang istri tercinta atau ketika nonton film ps : i love you. huhuhuhu.. mengharu biru.*

Kalau kata ust. Budi sendiri hikmah dari kisah ini adalah betapa ketika akan menikah kita "memilih" pasangan yang terbaik untuk kita, akan tetapi di masa yang akan datang kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya. Seorang bunga kampus yang sehat dan menawan hati pun di masa yang akan datangnya bisa menjadi penyakitan yang butuh perhatian "lebih". Harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.. ya harus siap.... hmmm sudah siapkah saya???

*kalo ga disiap-siapin mah ga akan siap-siap, betul?* hihi =) mari bersiap-siap =) bismillah ...
Posted by anggun oktari at 20:51
Labels: curahan hate, kisah

pemilih
pilihlah
Si Petruk Tujuh Belasan Di Mal..
BERITA - metropolis.infogue.com - Mau kemana hari libur tujuh belasan nanti? Jujur sajalah, pasti banyak warga Jakarta langsung terbayang mal sebagai tujuan berplesir di setiap hari libur. Lha, mau kemana lagi? Mal memang sudah jadi tempat pelarian orang urban. Setelah 63 tahun negeri ini merdeka, Petruk dan teman-temannya pun mulai doyan ke mal..

Tidak percaya? Coba tengok Plaza Semanggi. Sejak 11 Agustus, pengunjung bisa menemui Si Jangkung Petruk sampai Si Ganteng Arjuna. Jumat petang kemarin misalnya, Si Petruk menyapa pengunjung, Selamat petang, selamat datang di Plaza Semanggi dalam pertunjukkan Wayang Goes to Mall 2008..!

Nah, Petruk dan para punakawan itu hadir dalam wujud kulit, wayang kulit. Sore itu mereka tampil dalam lakon Kumba Karna Pahlawan Sejati, menyesuaikan dengan tema kemerdekaan negeri ini.

Lha kalau di gedung kesenian, itu-itu saja yang nonton. Kalau di mal bisa curi perhatian banyak orang, walaupun sekadar ditoleh enggak masalah. Lagipula, orang sekarang kan memang wisatanya ke mal tho? ujar Hendra Wijaya, pelaksana acara dari Wayangkom, komunitas pecinta segala hal berbau wayang.

Hendra mengaku, sejak tahun 2006, dia sudah menawarkan proposal acara wayang itu ke berbagai mal lain di Jakarta, namun kerap ditolak. Di Plaza Semanggi, pertunjukkan wayang itu masih bisa dinikmati sampai tanggal 18 Agustus nanti, pukul 14.00.

Pengunjung juga bisa menyaksikan pameran 100 karakter wayang kulit dan komik-komik wayang di areal atrium. Sang dalang, Asman Budi Prayitno, akan membawakan cerita lakonnya dalam bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia.

Memang, mal kini sudah seperti bermetamorfosa menjadi tempat untuk segala aktivitas, terutama yang berpretensi untuk to see or to be seen, melihat dan dilihat. Mal tak lagi hanya tempat belanja, namun juga sudah menjadi taman bermain anak-anak, ruang pameran, arena kampanye organisasi lingkungan, panggung musik gratisan, galeri seni, museum dadakan, sampai panggung wayang kulit seperti tadi.

Menurut Denny Maruhum Pasaribu, Marketing Communications Manager Plaza Semanggi, mal kini harus lebih berani menampilkan pertunjukkan yang berakar dari budaya Indonesia sendiri. Justru unik dibandingkan mal di negara lain. Jadi jangan Doraemon atau Batman terus yang dikasih tempat di mal, ujar Denny.

Angklung dan Batik

Lain lagi di Pondok Indah Mal (PIM). Menyambut tujuh belasan, hadir pertunjukkan angklung dari Saung Angklung Mang Udjo dan peragaan busana bertema Catwalk of Independence di lantai dasar PIM II. Peragaan busana ini diikuti oleh beragam merek internasional, seperti Masari, Braun Buffel, sampai Mont Blanc.

Pada sesi acara yang sama itu, pakaian-pakaian batik juga akan banyak ditampilkan. Yang membanggakan, brand-brand internasional bersedia berdampingan dengan batik. Artinya, batik kini sejajar dengan busana dari first line boutique," kata Deputy Mall Manager PIM Eka Dewanto.

Di PIM I dan north sky walk, pengunjung bisa bernostalgia melalui beragam benda tempo dulu. Mulai dari pameran mobil kuno Ford A 1928 dan Chevy Impalla, sampai sepeda ontel kuno. Lalu mencicipi beragam hidangan tradisional dari kue apem sampai nasi kucing angkringan, diiringi musik keroncong.

Hingga 24 Agustus tersedia cemilan jadul (zaman dulu) dari Cemal Cemil: coklat rokok, gulali, harum manis, juga es lilin. Masih di lorong yang sama, dijual pula buku-buku kuno dan komik-komik wayang dengan berbagai lakon cerita. Di sini, pengunjung bisa membeli buku serial Asraman Kopingho sampai koran kuno edisi di tahun 1960-an, Star Weekly, yang dijual Rp 25.000 per eksemplar.

Pameran Lukisan

Mau nonton pameran lukisan? Datanglah ke Senayan City. Sampai dengan 31 Agustus mendatang pengunjung bisa menikmati lukisan karya I Nyoman Gunarsa (64), bertema Gerak Merah Putih Keemasan. Pengunjung juga bisa nonton pertunjukkan musik tradisional Bali, Rindik Bambu Bali.

Nah, jika ingin menikmati acara yang diadakan oleh dan untuk masyarakat, datanglah ke Jalan Kali Malang, Jakarta Timur dan Jalan Jaksa, Jakarta Pusat.

Saksikan seru dan meriahnya lomba balap karung, makan kerupuk dan lainnya yang diikuti warga Jalan Jaksa, warga asing, dan turis yang sedang berkunjung ke Jakarta. Kami menyediakan hadiah yang lucu untuk pemenang lomba, kata Helmy Zain, penyelenggara lomba.

Di tepi Kali Malang ada lomba panjat pinang dan gebuk bantal di atas sungai yang amat meriah.


Wanita Penderita Lupus Punya Cerita
Dahulu dia adalah seorang gadis yang energik dan supel. Semasa di kampus dia aktif dalam berbagai kegiatan. Semua orang kagum pada jiwa sosialnya. Semua orang percaya bahwa keindahan hidup telah digenggamnya. Hingga suatu ketika semua berganti!

Seorang dokter memberitahukan kepadanya bahwa dia terkena lupus. Dia terkejut, karena sungguh mengerti apa yang disampaikan dokter. Itu adalah sebuah penyakit yang membuat tubuh penderitanya bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dia membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya dengan penyakit itu.

Dia dan keluarganya berikhtiar luar biasa menghadapi cobaan ini. Pengobatan dengan glukokortikoid menjadi sebuah kekerapan dalam hidupnya. Dia sangat paham bahwa glukokortikoid tersebut hanya sedikit mengurangi efek dari penyakitnya, dan malah menimbulkan efek negatif lainnya. Dengan alasan itu dia sadar bahwa impiannya untuk menikah sebagaimana layaknya wanita lain merupakan impian yang nyaris muskil.

Namun kehendak Allah tidak pernah bisa diduga! Seorang pria menghampiri hidupnya. Bukan seorang pria biasa, melainkan seorang pria yang dengan apa yang dimilikinya bisa mendapat wanita mana saja yang dia mau. Seseorang yang menarik secara fisik dan berada secara materi. Buat gadis itu, hadirnya pria itu merupakan keberuntungannya. Pria itu menjadikannya seorang wanita.

Akhirnya mereka menikah. Dan sang suami menjadi sahabatnya yang paling utama dalam menghadapi penyakit lupus itu. Akan tetapi, cobaan masih saja diberikan oleh Yang Mahakuasa. Penyakit itu dan proses pengobatan yang kian sering akhirnya telah merenggut harta hidupnya yang lain; penglihatan. Dia mengalami kerusakan retina. Dan tidak cukup di situ, dia divonis tidak bisa menjadi seorang ibu.

Seseorang bertanya kepada sang suami, "Tidak berniat menikah lagi?"

Dengan marah dia menjawab, "Istri saya sakit! Dan, saya tidak ingin menambahnya dengan rasa sakit yang lain!"

Wanita itu cukup sadar akan kebutuhan suaminya walau tidak pernah tahu anjuran-anjuran bagi suaminya untuk menikah lagi di luar. Perasaan tidak sempurna itu membuatnya berkata kepada sang suami di suatu ketika, "Abang, sebaiknya kamu menikah lagi? Kamu tahu saya tidak bisa memberikan sesuatu yang sepatutnya diberikan seorang istri. InsyaAllah, pengadilan agama akan mengizinkanmu dengan melihat kondisi saya yang seperti ini. Dan saya rela."

Sang suami diam. Lalu menjawab, "Mengapa adik berkata demikian? Tolong jangan pernah mengulangi permintaan itu! Itu sungguh membuat saya sedih, seolah-olah adik menganggap apa yang lakukan selama ini bukanlah sesuatu yang tulus."

Wanita itu akhirnya tidak pernah lagi menyinggung soal itu lagi. Pada titik itu dia merasa sempurna; dicintai tanpa syarat oleh seseorang. Itu adalah sebuah harta yang demikian langka yang tidak dimiliki oleh semua orang. Dia sadar bahwa Allah tidak pernah sia-sia dalam menetapkan sesuatu. Allah memberinya penyakit sebagai ganti Allah mendatangkan seorang yang demikian indah hatinya. Allah menarik penglihatannya tetapi dia tahu sang suami yang menjadi matanya, dan baginya itu jauh di atas sempurna. Dan dia tahu masih banyak hal-hal indah dibalik cobaan-cobaan yang diterimanya.

Dia bersyukur!

"Maka, sungguh dibalik setiap kesulitan itu terdapat kemudahan. Sungguh, dibalik setiap kesulitan itu terdapat kemudahan." (QS. Al-Insyiroh: 5-6)


Dituliskan kembali dari materi pengajian SIAware edisi Romadhon 1429 H oleh Ust. Budi Prayitno. Kisah ini adalah kisah nyata seorang alumni ITB yang merupakan kenalan ustadz.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar